
10 Februari 2026
Majalengka – Di kaki Gunung Ciremai, tepatnya di Kecamatan Argapura, sebuah transformasi besar sedang terjadi. Pondok Pesantren Nurul Abror, lembaga pendidikan yang teguh memegang tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah dengan spesialisasi ilmu Nahwu dan Shorof, kini tampil beda.
Di balik dinding pesantren yang kental dengan lantunan Lalar (hafalan) kitab kuning, sistem manajemen keuangannya kini tak kalah canggih dengan perusahaan korporat. Kami berbincang dengan Bpk. M. Wawan Ridwan, S.HI, perwakilan manajemen Ponpes Nurul Abror, untuk mengupas bagaimana digitalisasi mengubah budaya pembayaran di pesantren yang diasuh oleh KH. Ahidin Mujtahidin ini.
Berdiri dengan visi mencetak santri yang berilmu amaliyah dan beramal ilmiyah, Nurul Abror memadukan pendidikan salaf (metode Sorogan & Bandongan) dengan pendidikan formal (SMP Plus & SMK Agribisnis). Namun, tantangan klasik pesantren tetap menghantui: Manajemen Data yang Tertutup.
"Dulu, semua informasi itu offline. Data siswa, tagihan, dokumen, hingga catatan pelanggaran hanya diketahui oleh pengurus," ungkap Pak Wawan.
Masalah terbesar muncul di akhir masa pendidikan. Seringkali terjadi "ledakan tagihan" di mana wali santri kaget dengan akumulasi tunggakan (uang makan, jajan, laundry) yang menumpuk karena tidak terkonfirmasi sejak awal. Kesalahpahaman sering terjadi, dan beban pesantren pun bertambah.
Awalnya, manajemen Nurul Abror mengira Cards by CAZH hanya sekadar kartu jajan. Namun, setelah proses onboarding, mereka terkejut.
"Bayangan kami hanya jajan pakai kartu. Ternyata, sistemnya sangat komplit. Mulai dari tagihan, tabungan, hingga monitoring akademik," jelasnya.
Ketakutan bahwa wali santri di daerah akan kesulitan (gaptek) ternyata tidak terbukti. Tanpa sosialisasi tatap muka yang rumit, hanya bermodalkan panduan via WhatsApp Group, adaptasi berjalan sangat cepat. Orang tua justru antusias karena mendapatkan akses yang selama ini tertutup rapat.
Dampak paling signifikan dirasakan pada sektor keuangan. Transparansi melalui aplikasi Cards Parents ternyata menciptakan efek psikologis unik bagi wali santri.
"Ada cerita menarik. Sebagian orang tua mengaku merasa 'gatal' ketika melihat status pembayaran di aplikasi berwarna Merah atau Kuning," cerita Pak Wawan antusias. "Artinya, mereka jadi ingin secepatnya membayar agar statusnya berubah jadi Hijau."
Transparansi ini memecahkan masalah menahun pesantren. Wali santri kini bisa membatasi uang jajan harian anak via aplikasi, memantau cashflow anak, dan membayar kewajiban tepat waktu tanpa perlu ditagih manual oleh staf pesantren.
Menutup perbincangan, Pak Wawan memberikan pesan krusial bagi pengelola pesantren lain. Menurutnya, manajemen keuangan pesantren jauh lebih kompleks dibanding sekolah formal biasa.
"Sekolah formal bisa menahan ijazah atau rapor jika ada tunggakan. Pesantren tidak bisa se-saklek itu karena basisnya kekeluargaan. Apalagi biaya pesantren mencakup biaya hidup (makan/asrama) yang jika tidak dibayar, akan membebani operasional harian pondok," tegasnya.
"Jika tidak dikelola secara digital dan real-time, tunggakan siswa tidak disadari orang tua. Tiba-tiba numpuk, orang tua kaget, lalu muncul konflik. Digitalisasi bukan gaya-gayaan, tapi solusi agar orang tua tenang, dan operasional pondok berjalan lancar."
Ingin putra-putri Anda mendalami ilmu Nahwu Shorof sekaligus memiliki skill Agribisnis dan Teknologi? Pondok Pesantren Nurul Abror membuka pendaftaran untuk jenjang:
📍 Alamat: Jl. Aryakamuning Blok Balandongan, Desa Sukadana, Kec. Argapura, Kab. Majalengka, Jawa Barat 45462. 🌐 Pendaftaran Online: Langsung ke Sekretariat atau ke Website Pesantren
Strategi "Zero-Queue" dengan Transformasi PPDB Online Terintegrasi
2 Januari 2026
Jasa Pembuatan Web PSB vs Aplikasi Siap Pakai: Mana Investasi Terbaik untuk Pesantren Modern?
17 Januari 2026
Ekosistem Transaksi Cashless Di Pesantren Az-Zahra Al Gontory
20 Januari 2026
Software Manajemen Sekolah Bogor untuk Pengelolaan Mudah
13 Desember 2025
Revolusi PPDB/PSB : Mengapa Sistem Pendaftaran Online Wajib Terintegrasi Pembayaran Virtual Account?
2 Januari 2026